DILI (TOP) - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), bersama dengan Kedutaan Besar Republik Filipina di Jakarta dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, menyelenggarakan sebuah dialog publik bertajuk "Forging Ahead in Crisis: Indonesia-Philippines Relations, ASEAN Chairship, and Regional Resilience".
Menurut siaran pers yang diperoleh oleh The Oe-Kusi Post (TOP) bahwa, Acara yang berlangsung pada Kamis, 23 April 2026, di Auditorium Yustinus Lantai 14, Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan ini menghadirkan pembicara utama Theresa P. Lazaro, Menteri Luar Negeri Republik Filipina.
Dialog publik ini merupakan bagian dari rangkaian ASEAN For The Peoples Week (AFPW) 2026 di Cebu, Filipina (5–8 Mei 2026), yang akan berlangsung berdampingan dengan KTT ASEAN ke-48.
“Melalui platform ini, kami bertujuan untuk memfasilitasi pertemuan masyarakat ASEAN tepat di pusat dari setiap KTT ASEAN tahunan. Kami mengapresiasi dukungan Ibu Menteri terhadap People-Centered ASEAN Peoples Week di Cebu ini,” ujar Dino Patti Djalal, Pendiri FPCI, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.
“Akan ada empat kegiatan utama, yang akan mencakup ASEAN Journalist and Digital Storyteller Fellowship, Southeast Asia Lecture Hall, Track 1.5 Dialogue of ASEAN Community Building, ASEAN Community Town Hall,” jelas Dino.
Upaya FPCI mengadakan ASEAN for the Peoples Week untuk membumikan isu ASEAN ini mendapat respons positif dari Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro.
“Yang sangat mengkhawatirkan saya adalah generasi muda nantilah yang harus benar-benar mengerti apa itu ASEAN. Saya rasa kesadaran tentang ASEAN masih rendah. Di antara negara-negara ASEAN, mungkin kita yang bekerja di bidang diplomasi dan pelayanan publik yang sudah memahami sepenuhnya, tapi yang penting sekarang adalah menciptakan kesadaran yang menyeluruh di semua kalangan," ucap Menlu Lazaro.
Dino kemudian menyoroti keketuaan Filipina di ASEAN.
“Kita semua tahu bahwa keketuaan tahun ini menghadapi tantangan strategis yang berat. Kita kini berada dalam masa transisi menuju tatanan dunia berikutnya. Di FPCI, kami tidak hanya melihat risiko tetapi juga peluang bagi ASEAN.”
“Kohesi 11 negara Asia Tenggara kini sedang diuji di tengah persaingan kekuatan besar dan politik luar negeri yang pragmatis. Saya juga percaya bahwa deskripsi tugas untuk menjaga sentralitas dan kohesi ASEAN bukanlah tugas dari ketua semata. Ini adalah tanggung jawab dari setiap negara anggota ASEAN.”
Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro, kemudian merespons bahwa “ Upaya untuk perdamaian mendorong keketuaan ASEAN Filipina tahun ini, dengan tema "Navigating Our Future Together" adalah seruan kolektif untuk bertindak. Di tengah dunia yang memiliki kepentingan yang terfragmentasi, Filipina berkomitmen untuk mengarahkan ASEAN menuju stabilitas kawasan bersama.”
Sejalan dengan keketuaan Filipina, dalam sambutannya, Wakil Rektor Universitas Atma Jaya Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumn, Yanti, Ph.D mengatakan “Indonesia berdiri sebagai mitra yang vital. Komitmen kita bersama untuk menjaga sentralitas ASEAN adalah anchor yang akan memungkinkan kita untuk menavigasi tantangan internal dan eksternal ini.”
Adapun peserta yang hadir terdiri dari anggota korps diplomatik, perwakilan pemerintah Indonesia termasuk 23 ambassador, media, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, think tank, akademisi, dan mahasiswa hubungan internasional.

